LoGueEndNotes

Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan

Gambar di samping nggak tau kapan pengambilan gambarnya. Tapi yang jelas sekarang saya ucapkan: selamat datang di abad 21!

Kemarin Jumat pagi di kampus ada ujian Rangkaian Elektrik. Malam sebelumnya wa belajar mati-matian.  Sebenarnya sih tidur-tiduran, tapi kan katanya tidur itu saudaranya mati, jadi kaga beda jaulah.

Hasilnya? Ya ngerti dikit-dikit. Okelah, wa siap! Sekalipun kaga nemu jawabannya, wa juga siap menyontek. Menyontek itu kata sebagian orang kebiasaan buruk, tapi bagi pelakunya itu adalah sebuah skill yang kaga sepele. Hehe... wa tau aja.
Read More …

[caption id="attachment_467" align="alignleft" width="235" caption="Tak ngomong, diam pun jadi."][/caption]

Menghabiskan liburan aku di Pare satu bulan. Padahal lebih banyak mainnya ketimbang belajar di situ. Tapi setidaknya ada juga dikit-dikit belajarnya. Belajar bahasa inggris rasanya kurang lengkap kalo nggak practice langsung ama native speaker-nya. Makanya itu aku ikutan exam di Kuta, Bali.

Padahal kemampuan inggris-ku masih banyak trouble, dan loading. Tapi nggak papa, yang penting bisa ngomong, walaupun nggak karuan.

Peserta exam diberi waktu banyak. Dari abis dzuhur sampe menjelang maghrib buat nyari bule-bule yang mau diganggu orang-orang macam kami. Tapi rata-rata mereka orangnya "welcome". Maksud aku welcome tu, bukannya wajah mereka mirip keset, tapi orangnya ramah. Kecuali yang dari Asia, kayak Korea dan teman-temannya. Mereka kayak sinis, ato cuman perasaanku aja. Lagipula dalam hal inggris, mereka bukan native speaker.

Dibantu temanku yang udah lumayan, aku menemukan bule yang bersedia diajak bincang-bincang. Pastinya cewek muda dong. Exam sekalian refreshing sama yang segar-segar, kata orang two in one.
Read More …

[caption id="attachment_458" align="alignleft" width="277" caption="Bermasalah"][/caption]

Duh, rasanya lama amat nggak posting. Soalnya modemku udah abis. Masalahnya itu susah amat cari pulsa buat paketan. Ceritanya kan saat ini aku tinggal di Pare Desa Tulungrejo, atau orang biasa nyebutnya Kampung Inggris. Namanya juga kampung, jadi agak sedikit susah nyari pulsa 100 ribuan.

Kata guruku dulu, manusia itu termasuk omnivora atau bahasa gaulnya pemakan segalanya.

Aku sangat menikmati kenyataan yang menyenangkan ini. Makanya itu aku suka makan apa aja. Yang penting cocok di lidah.

Tapi bahaya juga ternyata kalo sampai lupa diri.

Pernah waktu itu aku jalan-jalan (sebenarnya sih sepedaan) bareng temen ke Candi Serowono, sekitar setengah jam perjalanan pake sepeda. Waktu itu panas banget, siang hari soalnya. Pas nemu orang jualan es deket Candi, langsung aja aku beli. Beberapa temen yang lain juga ikutan.

Aku enjoy banget minumnya. Kalo ada yang nanya: kamu minum apaan? Aku pasti bakal menggeleng. Emang nggak tau namanya.
Read More …

Institut Teknologi MalangBelakangan ini aku ngidam pengen curhat.

Kebanyakan orang pasti udah kenal sama ITB. But, kampusku bukan yang itu. Namanya sih mirip, cuman beda satu huruf. Tapi, perbedaannya mungkin sangat jauh, sejauh nyamuk sama obat nyamuk.

ITN adalah institut teknologi. Orang juga pada tau hal itu. Tapi banyak yang ketipu tentang huruf terakhir "N". Banyak orang sepintas mengira itu adalah singkatan dari "Negeri". Apakah itu benar?

Selidik punya selidik, terbukti bahwa kabar itu adalah dosa besar. "N" di situ untuk singkatan dari Nasional.
Read More …

اقرأ باسم ربك

Lama nggak posting. Belakangan ini aku buntu mau posting apa. Aku merasakan ada sesuatu yang salah. Semacam seperti ngga makan lama, padahal makan itu perlu. Kenapa makan itu perlu?

Supaya bisa pup.

Tapi ini bukan masalah makan dan akibat dari makan (red; baca buang air).

Kali ini emang sedikit agak ngelantur. Namanya juga lagi buntu. Setelah tidur 8 jam, makan nasi goreng dan ngasi makan ikan cupang, aku jadi kepikiran blog.

Kasian tu blog. Udah lumayan lama nggak dikasih makan dia. Aku juga nggak pengen jadi majikan yang buruk, seperti sebagian orang Malaysia (ehem ehem).

Namun masalahnya itu aku lagi buntu. Selidik punya selidik, ternyata emang ada yang salah pada diri aku selama ini.

Pas waktu buka lemari, aku kaget ada benda nongol dari dalam. Berdebu dan sangat menyedihkan. Ya, itu buku bacaan yang belum tuntas kubaca. Aku jadi sadar, sebenarnya emang ada yang salah.

Aku lama nggak baca buku.

Padahal kutu paling bodoh segalaksi bima sakti pun tau, kalo nulis itu mirip sama berak. Semacam nuangin ke dalam bentuk tulisan. Makanya itu, biar beraknya lancar, kita harus makan yang benar. Dalam kasus postingan ya kita musti baca. Baca teratur, tulis teratur. Baca serampangan, tulis serampanga. Baca porno, tulis porno.

Membaca itu baik dan terdengar modern, teman.





Read More …



[caption id="attachment_345" align="alignleft" width="590" caption="Rumus: Elektronik=Wanita"][/caption]

Jujur aku agak sedikit plin-plan. Oke, sebenarnya sangat plin-plan dengan benda-benda elektronik dan  --- juga wanita.
Read More …

[caption id="attachment_317" align="alignright" width="275" caption="Motivasi = Narkoba"][/caption]

Asal kata dari motif, seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu. Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat).

Motivasi itu perlu. Iya, siapa bilang tidak! Namun apa jadinya apabila disalahgunakan. Ini seperti narkoba yang tak ubahnya pedang bermata dua. Semua hal yang baik, tetap menjadi baik tergantung di tangan siapa hal tersebut berada.

Aku harus sedikit bercerita. Ada seseorang yang menjengkelkan. Tiap harinya dia selalu bicara tentang: Hidup Anda adalah sebuah anugerah. Yakinlah dengan anugerah tersebut, Anda bisa menggenggam dunia yang Anda inginkan.

Pada waktu kosong dia menonton film. Film itu bercerita tentang anak yang miskin, pendidikan formal tidak dia dapatkan, namun di masa depannya, si anak miskin itu tiba-tiba saja kaya karena beberapa alasan. Dari film itu muncullah suatu kenaifan untuk sebagian orang dalam wujud asumsi: tanpa sekolah pun orang bisa kaya dan sukses.

Tiap dapat kesempatan bicara, orang menjengkelkan ini selalu mengumbar motivasi ini dan itu.

Apakah orang yang barusan kita gosipkan itu benar-benar menjengkelkan?

Menurut aku: iya, sangat menjengkelkan! Kenapa aku membencinya? Alasannya sederhana: sehabis dia ngomong motivasi, yang dia lakukan adalah tidur dan dia menyalahgunakan motivasi selayaknya narkoba.

Dalam diri orang itu tidak ditemukan terapan ataupun realisasi dari motivasi yang dia sudah hapal di luar kepala. Selain itu dia bahkan menjadi malas karena penyimpangan motivasi. Contohnya saja: tanpa sekolah pun orang bisa sukses. Jadilah pendidikan bukan hal yang penting, padahal orang menjengkelkan itu mampu mengecap pendidikan. Orang ini kasihan, dia sadar tapi tidak mau menyadari bahwa motivasi tersebut tidak cocok untuk dia.

Sebenarnya motivasi telah memiliki tuannya masing-masing atau dalam bahasa mudahnya, setiap orang membutuhkan motivasi yang tidak selalu sama. Motivasi "tanpa sekolah pun orang bisa sukses" adalah milik orang-orang kurang beruntung ekonominya, bukan milik orang-orang mapan. Selama masih bisa mengenyam pendidikan, kenapa tidak. Tanpa sekolah saja bisa sukses, apalagi pakai sekolah.

Dia yang cuma bicara motivasi melulu itu betul-betul bikin jengkel. Sepertinya aku tidak membicarakan siapa-siapa. Lihat, orang menjengkelkan lagi menyedihkan itu tepat di hadapanku, itu terjadi tiap kali aku menghitung jerawat.[]

Source: http://id.shvoong.com (definisi motivasi)

Image by google
Read More …







Bulan-bulan terakhir ini Haarits agak gelisah. Ada perubahan di pola pikirnya.

Pada dasarnya dia normal dari segi kecenderungan seks. Jika melihat perempuan cantik, tentu dia akan tertarik. Itu hal yang biasa.

Tapi itu dulu, dan sekarang tidak lagi.

Haarits masih mengakui perempuan-perempuan yang pada dasarnya cantik itu adalah cantik. Dia masih bisa menemukan kecantikan-kecantikan pada banyak perempuan yang dipapasinya tiap hari atau artis di TV. Namun dia kehilangan rasa ketertarikan pada kecantikan macam itu.

Dia tidak tahu apa-apa kenapa ini semua terjadi setelah dia mengenal Najwa. Sayangnya, Najwa tidak tahu itu.[]



Read More …


Pada umumnya manusia makan dalam sehari tiga kali: sarapan, makan siang dan makan malam.
Aku juga seperti itu, dulu. Iya dulu, sebelum aku ngekost. Aku orangnya suka makan, tapi malas nyarinya keluar, apalagi pagi. Makanya itu aku sering nggak sarapan nasi, padahal dulunya aku biasa makan nasi kalo pagi, kalo nggak, aku bisa uring-uringan. Namun malas banget rasanya kalo pagi-pagi harus keluar nyari makan. So, kalo rajin aku makan, kalo malas aku cuman ngemil yang bisa dingemil dari warung di bawah kost-an.
Namun setelah beberapa hari aku cuman sempet makan dua kali sehari, aku khwatir badanku jadi kurus. Aku orangnya sudah kurus, malah tambah kurus lagi. Setelah kenyataan itu menimpaku, aku bertekad makan tiga kali sehari. Kapan pun timingnya. Ya benar, kapan pun timingnya?
So, aku punya empat seni makan dari segi timingnya ato waktu.
Pertama, makan pagi, makan siang, dan makan malam (normal).
Kedua, makan siang, makan sore, dan makan malam (telat).
Ketiga, makan siang, makan malam, dan makan malam (qodo an).
Keempat, makan sore, makan malam dan makan malam (qodoa an ekstrim, ini jarang).
Read More …







Waktu luang biasanya kuhabiskan dengan laptop tercinta. Sedikitbanya aku agak akrab dengan benda yang satu ini. Kalo dia kerja lambat, aku tahu apa yang harus kulakaukan. Kalo dia bermasalah aku kenal dengan curhatnya yang selalu timbul mendadak. Kadang-kadang dia ngambek, tapi itu tidak terlalu memusingkanku, cukup di-restore saja, dia pasti lupa kenapa dia harus ngambek.


Setiap aku beli benda yang ada buku panduannya, bukunya sering kubaca-baca. Begitu juga dengan laptop. Yang lebih kubaca dulu adalah bab-bab penanganan masalah yang terjadi. Dalam salah satu paragraf aku temukan kalimat: apabila laptop hang dan tidak bisa diapa-apakan lagi, maka tekan tombol kombinasi Ctrl+Alt+Del, keluarlah task manager, lalu matikan program yang tidak bisa ditutup dari task manager itu. Apabila tombol kombinasi tidak berhasil, cara terakhir adalah tekan tombol power untuk memutuskan listrik agar laptop mati. Dan hal terkahir ini sebiasa mungkin harus dihindari, karena laptop dimatikan secara paksa dan dapat merusak harddisk.


Selamat setahun lebih aku sering melakukan hal yang di atas. Apabila laptop hang, kutekan tombol kombinasi Ctrl+Alt+Del, dan apabila tidak mampu, cara terakhir yang kupakai, tekan tombol power. Sekali lagi kutekankan, itu selama setahun lebih saja. Karena ada suatu hari setelah itu terjadi masalah pada laptopku yang tidak bisa dipecahkan oleh trik dari buku panduan tersebut.


Pada waktu antara maghrib-isya aku pulang ke asramaa, asyik nge-laptop, lagi main virtual DJ. Tahu-tahu laptop tercinta itu hang. Kutekan tombol kombinasi Ctrl+Alt+Del. Taks manager-nya emang keluar, tapi program virtual DJ yang bikin tekang itu nggak mau tertutup. Cara tombol kombinasi gagal, terpaksa akku pakai yang dalam buku panduan disebut ‘cara terakhir’. Kutekan tombol power selama empat detik sesuai panduan. Seharusnya laptop itu mati karena listrik dari batere diputus. Tapi itu seharusnya dan yang terjadi malah yang tidak seharusnya terjadi.


Busyet laptop nggak mati-mati. Dapat listrik dari mana ni laptop?! Pada waktu itulah klimaks atau puncak kehancuran software yang ada di laptopku terjadi. Kalo tombol huruf ‘A’ rusak itu, itu menyedihkan, tapi ini tombol power, aku jadi bingung.


Aku memutar otak, bagaimana caranya agar laptop ini bisa mati mendadak. Di-restart juga nggak mau. Cara satu-satunya harus memaksanya shutdown. Ting-tong! Sebuah ide cemerlang mencet bel di otakku.


Dengan hati-hati kubalik laptop. Hati-hati banget, karena bahaya kalo sampai harddisk-nya rusak. Dengan seringai kulepas baterenya. Nyip….. laptopnya beneran mati. Kupasang lagi baterenya, kukembalikan ke posisi semula dan tekan tombol power. Detik-detik itu adalah menegangkan, kayak nunggu hasil UN. Laptop melewati boot dengan sukses, sampai akhirnya masuk windows. Huhhmmphhh…. Aku plong.


Aku berkhayal, kapan-kapan kalo aku mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang produksi laptop, mungkin tidak salahnya kutambahkan ‘cara terakhir adalah lepas batere’.


 

Read More …



Sepertinya syarafku agak menegang akhir-akhir ini. Yah, semacam repetitive strain injury (RSI) atau apalah, susah nyebutnya, mulutku saja sampai berbuih. Yang jelas sebentar lagi hasil ujian akan diumumkan. Aku gugup banget banget. Bayangkan perjuangang tiga tahun dipertaruhkan hanya dalam beberapa LJK.
Pada malam harinya aku sulit tidur. Selain karena kepikiran kelulusan, kasurku itu banyak kutunya. Dalam satu waktu aku mengintip lemari pakaian. Seragam putih-abu-abunya masih ada. Paling nggak persiapan kalo memang harus mengulang. Semoga itu nggak pernah ada. Setelah itu aku kembali ke laptop. Nggak penting, cuman main GTA.
Udah jam sebelas malam. Belum juga mau tidur. Gelisah.
Waktu maghrib tadi aku dengar ada satu yang nggak lulus. Sebenarnya sih aku nggak percaya-percaya amat. Biasalah… gosip. Tapi aku gugup juga. Jangan-jangan benar? Jangan-jangan orang malang itu aku?
Esok harinya, di bumi masih tersedia cukup udara untuk dihirup manusia gugup yang tentunya banyak menghabisakan oksigen macam aku dan teman-temanku yang lain. Tapi pastinya kegugupan itu nggak dipublikasikan. Cukup dalam hati, milik sendiri. Nanti jam sepuluh hasil baru akan dibeberkan di mushalla.
Pagi itu, seperti biasa, berhubung masih berstatus santri, aku masuk kelas. Belajar kitab. Sebentar-sebentar nengok ke belakang, ke arah jam dinding. Menghitung mundur.
“Sejam lagi.”
Klimaksnya pas penyerahan amplop berisi hasil UN. Di mushalla, setelah tetek-bengek seperti sambutan dan spesies lainnya, satu-satu orang maju mengambil amplop tipis yang harga perunitnya Rp. 50,-. Iya, murah! Isinya pun cuma sepotong kertas kecil. Kertas semacam itu ada dua rim di atas lemariku, mereknya sinar dunia.
Yang pertama dipanggil adalah…
“Abdurrahman!” panggil Pak Mus, pahlawan kita itu.
Orang yang bersangkutan maju dengan riang. Sehabis mengambil amplop, dia teriak-teriak bahwa dia lulus. Padahal dia belum membuka amplopnya, tapi dia yakin pasti lulus. Aku bisa mengerti, soalnya dia yang paling banyak punya jaringan.
Satu demi satu menyungging senyum, dan aku kapan? Ada yang histeris kesenangan. Kayaknya belum ada gelagat kegagalan. Semoga saja berita satu orang nggak lulus itu salah. Tapi aku jadi kepikiran sama doaku barusan. Kayaknya doa itu lumayan berbahaya jika sampai kabul. Misalnya , berita itu memang salah, dan yang benar itu cuma satu orang yang lulus. Wah, parah!
Setiap habis nerima amplop pasti nggak langsung dibuka, tapi diterawang dulu. Amplopnya kan tipis, jadi bisa kelihatan. Sampai pada giliranku. Aku terwang amplop itu. Harusnya tulisan di sepotong kertas di dalam amplop tipis itu kelihatan, tapi kertas di dalam amplopku ini sedikit bermasalah. Kertasnya terlilpat sehingga kertasnya nggak bisa kelihatan.
“Hah… apa lagi ini? Bikin lambat!”
Gemetaran, kubobol amplop itu. Kupaksa isinya keluar. Untungnya kertas itu nggak berontak. Waktu kubuka lipatannya pun dia pasrah. Dan aku lemas membaca tulisannya.
SELAMAT ANDA LULUS
Aku mendadak jadi sejenis orang yang orang ya g mengidap autis atau mungkin skizofrenia. Aku bingung dalam memilih ekspresi macam apa yang cocok. Aku cuma sanggup bersyukur dan tersenyum.
Detik-detik sesudah itu aku plong. Menunggu yang belum dapat amplop, aku duduk bersandar. Sebentar-sebentar membuka sepotong kertas luar biasa itu. Untung, tulisannya masih sama. Tajuddin menempelkan kertas sakti itu di dahinya dengan menyelipkan di kupiah. Dia berjalan keliling-keliling. Semua orang tahu dia itu manusia riya (sok pamer).
Lagi-lagi aku menengok kertasku. Kali ini lebih teliti.
02-011-051-6
Muhammad Ilham
SELAMAT
ANDA LULUS
Ah, manisnya. Di lubang huruf ‘A’ aku melihat kota Malang.
“Tunggu aku ITN.”
*****
Jika ditanya bacaan favorit, aku biasanya menyebutkan judul-judul novel dari tetralogi Laskar Pelangi. Tapi setelah pikir-pikir, jika dalam waktu dekat-dekat ini ada yang nanya bacaan favoritku, mungkin akuk bakal menjawab: kertas hasil UN-ku. 02-011-051-6 Muhammad Ilham SELAMAT ANDA LULUS.
*****
Gosip itu ternyata benar; satu orang nggak lulus. Ternyata banyak jaringan itu tak seindah kelihatannya, bingung milih yang mana. Terus berjuang Abdurrahim!
Read More …


Tes SNMPTN di UNLAM udah kelar. Pada akhirnya aku ucapkan: nggak ada harapan. Bukannya putus asa, tapi aku nggak mau terlalu berharap kepada sesuatu yang sangat tinggi untuk kucapai (duh, bahasanya).

Pendidikanku berlatarbelakang pesantren, habitat aslinya itu kalo mau kuliah, ya ke STAIN, IAIN, UIN ato malah lanjut lagi ke pesantren yang lain. Mungkin kami anak-anak pesantren ini memang harus kembali ke habitat masing-masing jika nggak ingin dikacangin orang. Cuma segelintir orang yang mungkin kapasitasnya mampu untuk memutar haluan, seperti ngambil jurusan yang secara kasat mata nggak relevan dengan pelajaran di pesantren.

Kalo aku sih nunggu pengumuman ITN Malang dulu. Aku rencananya ngambil komunikasi di Elektro. Sebenarnya aku benar-benar blank, apa itu komunikasi? Belajar apa? Lalu ujung-ujunnya jadi apa!? Tapi kenapa ya, itu malah menggodaku untuk mempelajarinya.

Di sisi lain aku juga masih bingung. Seandainya aku lulus di ITN dan lulus juga di IAIN Antasari, aku milih yang mana? Aku masih ingin memperdalam agamaku. Nggak ingin jauh dari lingkungan relegius. Soalnya di lingkungan relegius aja aku nggak karuan gini, apalagi di lingkungan bebas. Sementara itu aku juga ingin cari angin baru di ITN. Selama ini seperti yang diketahui oleh Malaikat Pencatat, aku ini belajar di pesantren. Makanya itu mau cari yang baru.

Namun pada akhirnya, di mana pun aku melanjutkan studiku, aku berharap dapat berbuat semaksimal mungkin dalam hal-hal positif. Entah itu aku di IAIN ataupun di ITN ato Allah berkehendak lain di antara dua itu, sekolah di Oxford misalnya, yang secara kasat mata mempelajari ilmu yang nggak sama, mempunyai kegunaan masing-masing, tapi sumber ilmu itu hanya satu yaitu Allah. Dan aku berharap dengan ilmu itu aku nggak celaka.
Read More …

Namanya juga pondok pesantren, biasanya sih banyak undangan dari warga sekitar sampai yang luar kota. Apalagi pas bulan Rabi’ul Awwal, bulannya ultah nabi kita ato biasanya disebut bulan maulid. Pada bulan itu banyak banget udangan perayaan maulid, nggak di masjid, surau, rumah-rumah, tapi nggak ada kok yang ngundang ke pub.

Waktu masih muda (kelas tsanawiyah/SLTP) aku emang hobi ikut undangan. Pas udah aliyah (SLTA) bawaannya malas mulu. Apalagi waktu III aliyah. Kalo ada teman yang ngajakin undangan, aku interogasi dulu.


Teman: Ham, ikut udangan? Ikut, kucatat nih... *Meletakkan mata pen di atas kertas. Tekesan ngancam gitu*
Aku : Undangan apa?
Teman: Maulid. Ntar habis isya
Aku: : Oh... lain kali aja
Bukannya aku nggak suka maulid, tapi yang jadi masalah itu sifat yang paling manusiawi di diriku, laphar...*agak berbisik*. Maulid kan biasnya habis isya, otomatis kalo ikut maulid makan jadi telat. Apalagi jika maulidnya mengayak-ayak maut. Trus disambung ceramah.

Padahal menurut para ahli, makan di atas jam delapan ato sembilan malam tidak bagus bagi pencernaan. Saat itu mesin perut lagi istirahat, kecapean kerja seharian. Jadi jika dipaksakan makan di atas jam tersebut, bisa mengakibatkan timbunan lemak. Ya jadinya kegemukan.
Aku jadi kepikiran sama diriku yang kurus ini, iseng-iseng aku makan tengah malam. Tapi nyatanya aku tetap kelewat langsing dan singset. Dipikir-pikir mungkin mesin perutnya emang istirahat, tapi cacingnya yang online 24 jam.

Back to... pada intinya aku jarang ikut undangan maulid. Tapi lain halnya jika undangan yang acaranya singkat.

Teman: Habis maghrib langsung ke gerbang muka, undangan.*Gaya sok memvonis*.
Aku : Undangan apa?
Teman: Haulan.
Hehe... kalo cuma haulan, sih sebentar. Acaranya habis maghrib pula, jadinya makan nggak telat-telat amat.

Singkat cerita (hailah... jurus pamungkas penulis bila lagi kebingungan) sebellum pembacaan surah yasin, tahlil dan doa haul, tuan rumah nyuguhin minum teh sama wadai apam peranggi (silakan tanya sama ustadz Google). Kalo apamnya sih oke banget, tapi tehnya ada sedikit sensasi.

Aku minum seminum-minumnya tanpa rasa berdosa kepada diriku sendiri, sedangkan diriku ini nggak nyadar kalo di gelas teh ada benda hitam-putih tidak terpuji. Sadarnya pas sedikit lagi tehnya habis. Aku khwatir, mampukah sistem pencernaan mengatasi air bekas kotoran cicak itu.

Namun dalam hati aku tetap bersyukur, ntung bukan kotoran sapi.
*****
Read More …

Pernah nonton film kartun Monster Inc? Memang cerita utamanya tentang seorang anak manusia yang tersesat ke negeri itu, tapi bukan itu yang ingin kusampaikan. Melainkan tentang negeri para monster yang sebenarnya takut kepada manusia. Negeri mereka tentu membutuhkah pasokan energi. Karena itulah berdiri sebuah perusahaan penyedia enerji.
Pasokan energi itu didapatkandari menakut-nakuti manusia. Jadi di perusahaan tersebut disediakan pintu penguhubung ke dunia manusia. Dan para monster pun masuk melalui media itu. Trus keluarnya dari dalam lemari pakaian, langsung mengejutkan anak kecil yang lagi tidur. Otomatis yang dibangunin teriaklah.
Teriakan itu yang mengisi tabung energi yang sebelumnya sudah diletakkan di samping pintu penghubung. Kadar pengisiannya tergantung berapa oktaf tinggi jeritan.
Lalu aku terpikir, jangan-jangan hantu juga kayak itu? Maksudnya, selama ini mereka nakut-nakutin kita Cuma sebagian dari bisnisnya yang mereka geluti.
Mereka menguras jeritan ketakutan kita, gemetaran lutut, bahakan linangan air hangat yang dahsyt itu dipersembahkan untuk keperluan negeri mereka, negeri para hantu. Tapi nggak papa juga sih, soalnya manusia juga sering mengeksploitasi mereka, kayak bikin film horor.

Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi kita kan sering dengar orang mati ketabrak, kepleset di toilet, ato lupa cara bernapas. Lalu apa ada berita mati dimakan hantu? Nggak ada kan? Masa berita mati dimakan hantu. Berita kan nggak punya nyawa.
Ya itu tadi kesimpulannya, nggak ada orang mati dimakan hantu.
Aku nggak tau ya, apa mirip antara kedok monter inc sama hantu, yang pasti di Al Falah pernah ada kejadian pocong fashion.
Kata kakak kelas, dulunya itu di pondok ini emang banyak hantunya, namun seiring berlalunya zaman dan periode, berakhir pulalah zamannya hantu. Nggak ada lagi penampakan.
Hantu di Al Falah pun mulai pudar. Akan tetapi di suatu malam berkabut di tahun2008-an (klasik banget ya) eksistensi hantu kembali meggeliat. Para santri dikejutkan berita bahwa seorang santri mergokin pocong di area jemuran pakaian. Mergokinnya nggak sengajalah, otomatis santri itu mendadak berbakat sekali larinya. Langkahnya lebar banget, coz kalo loncat-loncat persaingan imbang dong.
Keesokan harinya diketahui pakaian di jemuran tempat pocong itu muncul raib. Mana yang baik-baik pula. Kejadian ini terus berulang-ulang. Sampai-sampai piringan CD-nya lecet karena kebanyakan diputar. Lho?
Kayaknya ini bukan poocng sembarangan. Pocong ini tau banget dengan perkembangan fashion, buktinya pakaianku aja nggak ilang-ilang. Karena itulah aku menetapkan hati untuk berguru fashion kepada beliau. Ya nggaklah...
Melihat dari sepak terjang si pocong, pengamat hantu dalam konferensi terbuka berfatwa bahwa pocong ini bajakan. Ya semacam CD bajakan di pinggir-pinggir jalan itu. Mengetahui itu masyarakat Al Falah geram dan nggak takut lagi.
Pada akhirnya nggak ada yang takut lagi sama pocong gadungan itu. Malah kalo ketemu, sebisa mungkin ngejar dia. Menurut berita telinga ke kuping si pocong masuk kawasan pesantren lewat tembok yang berlubang di samping lapangan bola. Di situlah staf IKPPF khususnya keamanan (sebutan untuk OSIS di pondokan ini). Tapi nangkap pocong itu susah-susah gampang. Emang kakinya keiket, namun apa jadinya kalo ketangkap yang aslinya? Jadinya kalo ngejar itu ragu-ragu, asli nggak ya?
Konon si pocong pernah dikejar, kaburnya itu ke persimpangan jalan. Trus di balik tikkungan dia raib tanpa ningggalin warisan sepeser pun. Menurut yang doyan gaib, si pocong menggunakan ilmu menghilang ato penipu mata. Lain lagi pendapat yang lebih mengedapankan kelogisan, pasti dia nyingsing kostum trus ngacir sengacir-ngacirnya. Kalo analisis pribadiku sih, palingan tuh pocong jeblok ke got. Sial yang membawa untung.
*****
Read More …



Aku pergi ke sekolah, SDN Surgi Mufti 5. Padahal jelas-jelas saat itu nggak ada kegiatan belajar sama sekali untuk anak didik kelas 6, soalnya aku dkk. udah ngelewatin UN. Tapi nggak ada kejelasan libur.

Indra: Kamu lanjutin ke mana?

Aku : Lanjutin apanya?

Indra: Ya lanjutin sekolah kamulah...

Aku terpikir ato terbengong sejenak, kemarin aku memang udah daftar ke sebuah pesantren, jadi kujawab saja: Ke Al Falah.

Indra: Al Falah? Apa itu? perasaan baru dengar.

Aku : Itu pondok pesantren *Sambil mengusap ujung hidung*

Indra: *Agak histeris* Jadi kamu beneran masuk pesantren?! Kok kamu mau-maunya masuk ke situ?

Aku : Aku kan pengen jadi malaikat.

Cita-cita itu kan terserah, suka-suka akulah. Tapi pas mendaftar ke Al Falah, ada sih ditanya orang yang ngetes: kamu sekolah ke sini emang mau jadi apa?

Aku jawab: ustadz. Soalnya takut dibilang aneh kalo bilang mo jadi malaikat. Yang pasti masuk pesantren nggak ada sedikit pun cita-citaku tuh jadi teroris. Itu pasti!

Sepertinya kabar seleb macam aku ini udah menyebar di anak-anak kelas enam. Wajar sih, soalnya kebanyakan masuk SMP. Waktu itu yang namanya pesantren pendidikannya emang dinilai masih terbelakang. Mau jadi apa kamu? Emang lulusnya kamu mau kerja di mana? Vokalis surau?

Halah yang macam itu nggak usah dipikirin.

Kembali ke sekolahan.

Indra: Sebenarnya sih, aku juga mau kayak kamu, masuk pesantren, *Agak malu-malu kucing*

Aku : *Heboh sendiri* Hah, Beneran?! Bagus tuh, berarti aku punya teman dong.

Indra: Besok aku mau daftar. Ntar kamu mau nggak nemenin aku, ayahku nggak tau tempatnya.

Aku : Iyah!

Tinggal beberapa hari lagi aku akan meninggalkan sekolah tercinta ini. Seharusnnya aku mengidap sindrom sedih atau varian lainnya. Mungkin aku akan merindukan Madi, yang kepalanya di bokerin burung, waktu kami menunggu bel masuk di bawah tiang listrik. Bisa juga aku merindukan bau khas seperti pahit-pahit kalat dari langit-langit kelas yang berlubang, kata teman sih bau tokek. Kadang aku geli sendiri teringat kena sanksi dari Pak Bukeri, disuruh duduk di lantai saat ulangan catur wulan.

Namun aku belum mengenal betul sindrom itu. Aku masih bergelut dengan ingus, belum mengerti arti sebuah perpisahan. Yang ada di otakku cuman: ah, aku nggak bisa lagi nonton kartun mingguan!

*****

Waktu masih santri baru (sanba) aku terserang shockcultural. Bagaimana nggak, bangun tidur sebelum adzan subuh, mandi di kolam umum, jadi jika terlambat nggak usah mimpi mandi deh, airnya keburu habis. Jika mau ke wc musti jalan bermeter-meter, coz wcnya di luar asrama. Sampai wc, malah penuh. Cari wc lain, airnya habislah, ember pecahlah.

Balum lagi masalah belajar. Bartahun-tahun aku belajar pakai bahasa sendiri, eh... di sini malah pake bahasa planet mana gitu. Kalo baca Al Qur’ an sih aku masih ngesot-ngesot ato merangkak-rangkak. Tapi Al Qur’an kan pake harakat (baris), kalo kitab yang dipelajari si sini, secuil baris pun nggak ada, makanya itu disebut orang arab gundul. Kukira itu benar, ternyata itu bukan arab gundul sebenarnya, cuman bahasa melayu (mirip banget bahasa indonesia) tapi ditulis dengan huruf hijaiyyah. Baru setelah naik ke jenjang yang lebih tinggi, aku menemukan arab gundul yang asli.

Ternyata arab gundul sejati lebih parah dari yang kubayangkan, membuatku gila.

Misalnya saja:










Bisa dibaca:


Yang pertama dibaca: Intaha

Yang kedua dibaca : Initahi

Kan jadinya bingung mana yang benar. Ato gini, misalnya aja di hadapan kamu ada kepala gundul tanpa sehelai rambut pun di situ. Lalu ditanya Tantowi Yahya: Jika tumbuh rambut di kepala ini, maka mondel rambutnya....

a. Straight

b. Kribo

c. Polem

d. Keriting

Bingungkan?

*****
Read More …

            Susahnya jadi orang dewasa itu banyak masalah, dan masalah itu kakak beradik dengan stres. Belakangan aku mengaku udah dewasa. Yah, paling nggak aku remajalah. Otomatis selain jenggotku makin banyak, masalahku juga ikutan numpuk.

            Kalau sudah banyak masalah plus capek, pasti bawaannya stres mulu. Dari kamar diberantakin orang nggak bertanggungjawab sampai cucian di baskom membukit. Pusing di asrama, cari angin keluar.  Di pintu asrama….. lagi-lagi sandal dikepet kampret! Terpaksa balas ngepet ke lain. Masalah madinglah (aku penanggung jawab mading. Deadline naskahlah. Kiriman ludeslah. Rambut semraut, padahal bentar lagi ada razia rambut. Belum gosok gigi. Tangan kesetrum mulu. Digosipin orang. Kalo kebanyakan makan sakit perut. Tapi kalo nggak minum malah kehausan (oke, dua yang terakhir aku bisa terima dengan lapang dada).

            Kalo udah stres, aku tuh jadi blingsatan bin bringasan. Tapi aku nggak separa Azmie. Temanku dari Negeri Puntik itu, kalo stres bisa makan orang, jadi lebih baik cepat-cepat mengungsi dari pada kena damprat.

            Kalo aku tuh orangnya sabar, ramah, dan manis. Namun sesabar, seramah dan semanis-manis apa pun orang itu pasti punya hidung, maksudku bisa marah juga. Minimal aku melampiaskan kekesalanku kepada benda mati. Salah satu targetnya adalah sandal!

            Pas lagi stres-stresnya, aku sukanya jalan ngesot. Al hasil setelah perdebatan sengit, para ulama fisika memutuskan: daya gesek antara sandal jepit dari karet dengan aspal, maka harus ada salah satu yang kalah.  Dalam kasus ini sandal lebih lunak dari pada aspal, berarti sandal keluar sebagai pekalah.

            Aku pun berduka lara setelah mengakui fatwa ulama fisika ini. Sandalku jadi lebih cepaat tipisnya. Ini ESS yang pertama. Namun sukurnya, aku sempat mengambil kesimpulan yang berharga: kestresan seseorang dapat diukur dari kecepatan menipisnya sandal miliknya.

            Pernah juga saking stresnya, aku jadi sakit perut (iyah, ngaku, tadi pagi kebanyakan makan). Tujuan selanjutnya adalah WC. Aku pun  mengenakan kostum kebangsaan. Sarung yang dipakai secara horizontal, menutupi bagian pusar ke bawah, kaos oblong, menutupi pusar ke atas, serta gayung yang tangkainya patah.

            WC terdekat dari asrama berjarak 10 meter. Namyanya WC 10, coz box-nya ada 10 buah. Tapi sayangnya di sini nggak ada operatornya, jadi mau ngapain juga nggak bakal ada yang ngeluarin. Aku jalan ngesot. Sampai WC aku masuk dan bantin pintu. Blam! (orang stres emang bawaannya gitu). Lalu terdengar bunyi-bunyian menakjubkan dan suara air, byur….byur…. Selesai.

            Aku buka pintu. Macet. Ada apa ini? Aku lebih keras narik pintnya. Tetap nggak kebuka. Aku sisipkan tangan ke celah pintu bagian atas yang renggang. Sekuat tenaga menarik, sampai-sampai kaki mendongkrak ke tembok. Pintunya masih diam. Aku pernah liat TV dan baca novel, tokohnya terperangkap di lift dan tempat keren lainnya. Tapi aku…aku…kekkunci di WC! Kenapa juga tadi pake acara banting pintu segala.

            Akhirnya pintu WC bermurah hati seusai perjuangan kerasku menarik pintu dari celah bawah. Tadi menariknya pake pose nungging, jadi pinggang encok, dan telapak tanganku memerah, hampir luka. ESS ketiga.

*****

            Malam itu aku capek banget. Baru nyelesain masang tikar asrama. Sedari siang tadi aku banyak menuai protesan atas beberapa tugasku yang mengecewakan, menurut mereka. Aku mulai pusang. Tiba-tiba aku mendadak pengen pipis (tiap stres, bawaannya ke belakang mulu. Jangan-jangan ada hubungannya?)

            Waktu itu sudah tengah malam. WC 10 itu keliatan angker banget. Habis, letaknya di pojokan sih. Lagi pula aku was-was, gimana rasanya kekunci di WC angker tengah malam begini.

            Terpaksa nyari WC lain, lebih jauh. “Mana jauh, hujan lagi!” saat itu gerimis turun. Aku jalan blingsatan di atas trotoar dari ulin, di bawahnya got. Tapi kali ini nggak ngesot, aku jalan menghentak-hentak. Bagiku bunyi derak teriakan ulin itu adalah sebuah pelampiasan dan braaak….!

            Yess, kakiku sukses nyungsup ke got. Ulinnya jebol, belubang. Landauku lecet parah dan dalam hitungan detik darah keluar lumayan banyak. Kurasakan sendi di pangkal pahaku ngilu, akibat hentakan. Aku musti meneruskan pengembaraan ke WC, mengingat ini emergency, mana mungkin aku pipis di sembarang tempat. Gerimis pun membasahi luka perih.

*****

            Belakangan ini, sesudah beberapa moment terjadi, aku melampiaskan kestresanku dengan tidur. Alasannya sederhana: lebih aman.

 

 

 

Read More …

Na, sekarang kita sudah berada di tahun 2010. 2009 lalu menyisakan banyak hal. Tapi menurut sebagian orang mengenang adalah buang-buang waktu. Namun tidak adil rasanya jika tidak menyertakan paham yang lain: orang bijak banyak pengalamannya. Itu pun dengan catatan musti bisa mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

Ngomong-ngomong soal pengalaman, aku ada lho satu pengalaman dari hari-hari 2009, yang amat berguna di tahun 2010 ini. Sedikit nyeleweng, seperti yang telah diketahui, akhir 2009 tadi peraturan berkendara mulai dipertegas dan ditambahkan. Di antaranya lampu kendaraan musti nyala, belok kiri ikuti syarat lampu untuk di beberapa persimpangan empat dan spion harus amien (dua-duanya terpasang). Nah, aku ini kalo berkendaraan pasti bawaannya ngayal mulu. Sudah kebiasaan sih... Makanya aku sering lupa ini dan itu, termasuk menjalankan peraturan di atas.

Kalo masalah spion sih nggak papa. Soalnya spion tuh permanen, kalo dipasang ya nggak dilepas lagi. Tapi yang jadi masalah itu 'belok kiri' dan 'lampu'. Nah, dalam menghadapi era yang serba ketat ini, aku harus lebih teliti, salah satunya dalam mengamati rambu-rambu.

Pernah di suatu pagi minggu akhir bulan ramadhan 2009 lalu, aku berurusan dengan yang namanya rambu-rambu. Waktu itu aku berkendara keliling-keliling nggak karuan di area Pantai jodoh dan sekitar Masjid Sabilal Muhtadin (waktu itu belum ada hari bebas kendaraan bermesin). Tau-tau pas melintas dari Pantai Jodoh ke arah Jembatan Merdeka di samping siring Sungai Martapura yang di depan Masjid Sabilal itu, aku melihat trafficlight-nya hijau. Aha, tepat sekali, aku langsung tancap gas, kalau-kalau keburu merah lagi. Bes.... dengan kerennya aku tikung ke kanan! Sumpah, aku nggak nyadar ada rambu-rambu di larang belok kanan di samping trafficlight itu, sekaligus lupa pesan dari bokap: di sini dilarang belok kanan, jadi lurus aja dan mutar di putusan jalan di sana.

Waktu nyebrang itu, aku hampir saja tertabrak kendaraan dari jalur sebelah. Aku pun mendengus dalam hati: yang hijau kan di jalur aku, berarti di jalur dia merah, eh... main terobos aja, hampir aja ketabrak. Massin!

Tanpa sadar aku yang salah, dan tanpa sadar pula polisi yang lagi jaga di pos samping lampu lalu lintas yang kulewati tadi, mengincarku. Aku ngeloyor santai di jalan samping Sabilal, tanpa firasat apapun. Polisinya nggak ngejar dan akunya nggak merasa bersalah. Dan setelah sampai di bundaran, aku belok kanan, menuju bundaran KB dekat kediaman dinas gubernur kita.

Belum lagi melintas bundaran KB. Sekitar sepuluh meter, aku melihat sepasang remaja diberhentikan dua orang polisi, kayaknya sih ditilang gitu. Tanpa kuduga, salah seorang polisi yang menilang itu memberhentikanku juga. Aku pun berhenti tanpa perlawanan yang berarti (wes...). Dalam pikiranku, yah... palingan periksa kelengkapan surat-menyurat. Tenang, aku kan taat dengan peraturan, jadi semua persyaratan sudah kupenuhi.

Waktu aku tepat berhenti di depan polisi tadi, dia nanya temannya lewat walkie-talkie: kendaraan Juviter warna hijau, iya kan? Suara di seberang sana menyahut: iya!

Aku mulai merasakan firasat buruk. Aku telah diincar! Kenapa? Pasti ada alasannya.
"Mana STNK sama SIM kamu?" pinta polisi itu. Aku kasih.

"Kamu tadi habis lampu lalu lintas belok ke kanan kan?" Aku mengangguk.

"Itu pelanggaran. Di situ cuma boleh lurus atau belok kiri."

"Tadi nggak liat rambunya," aku nyari alasan, tapi memang beneran nggak liat kok.

"Kalau nggak percaya, coba balik lagi ke sana." Aku di suruh balik lagi. Ya, aku turutin saja, tanpa menyadari apa yang akan terjadi. STNK dan SIM-ku ditinggal di polisi tadi.

Setelah sampai aku disambut polisi berbadan gede. Lalu aku lepas helm. Polisi itu tersenyum, tapi di mataku itu sebuah 'bala'.

"Coba liat di samping lampu merah itu. Nah, adakan rambu dilarang belok kanan." Aku cuman mengangguk hambar. "Iya. Tadi nggak keliatan," kataku.

"Sekarang keliatan, nggak?Harusnya kamu hormatin rambu itu, bukan malah dilanggar. Ayo sana, beri hormat sama rambu-rambunya, kalau perlu cium sekalian."

Mati aku! Masa harus melakukan hal semacam itu di pinggir jalan. Seorang polwan tak jauh dari situ tertawa, mungkin membayangkan yang akan kulakukan.

Aku nurut saja. Aku berharap dengan ini polisinya senang dan nggak nilang.

Aku berdiri di pembatas jalan, penghalat dua jalur, dan memberi hormat ke rambu-rambu tadi dengan sok acuh sama tatapan orang-orang. Arrgh... mana pas lampu merah lagi, mobil dan kendaraan pada bertumpuk di zebra crosss, di sebelah kanan dan kiriku. Di balik punggungku melintas sekelompok cewek lagi jogging. "Ih... ada yang kena sanksi," cemooh seorang dari mereka. Ampun dah...

Seusai hormat, aku cepat-cepat kembali ke polisi tadi, tanpa nyium dulu, ingat dan camkan aku nggak nyium rambu-rambu itu!

"Ya sudah sekarang rambunya benar-benar keliatan kan? Kalau gitu balik lagi ke polisi sana dan pinta sama dia 'surat cinta' yang merah itu." Mendengar itu aku benar-benar merah, arrrggh.... akhirnya kena tilang juga. Apalagi surat yang merah itu kalau buka surat tilang.

Berkat pengalaman itu, aku menjadi lebih bijaksana dalam menikungkan kendaraan.
Read More …

Selama beberapa hari ini akumelakukan perburuan. Yah, mumpung lagi liburan yang berarti aku bisa leluasa ke warnet, tidak terkurung di dalam pondok. Ya, tempatku berburu memang tidak di terminal atau di Pantai Jodoh, apalagi di hutan, tapi aku berburu di warnet, dalam dunia maya.

Terhitung mulai dari hari ahad, yang kunamai sebagai 'Hari F5' (baca potingan hari F5) hingga hari ini, Kamis 31 Des. di penghujung tahun 2009, aku bertekad mengakhiri aksi perburuan ini.

Sebetulnya sewaktu hari F5 aku sudah mendapatkan buruanku di warnet Oby,net, yaitu film kambing jantan full movie yang terbagi dalam 15 file. Semuanya sikses kudonlot, tapi sayang beribu sayang, sebelum file donlotan itu ku-send to Flashdisk listriknya padam. Zeeep... dalam sekejap monitor dan kawan-kawan mati total.

Aku tak menyerah, sebab aku adalah laki-laki. Di lain waktu, Selasa 29 Des. 09 aku berburu lagi. Kali ini di eEngsty.net. Dan sukses semua file kambing jantan dalam genggamanku (baca:Flashdisk). Semua data di folder donlotan sudah ku-check, dan ternyata betul semua sudah ku-send to.

Sesampainya di rumah ku buka flashdiskku. Baik-baik saja. Kubuka folder donlotan yang kunamau Ilham. Nggak terjadi apa-apa. Kuputar satu file dari kambing jantan, bisa aja. Setelah itu ku-rename nama-nama file-nya, biar mudah ngenalinya gitu,

Setelah keluar dari folder Ilham, dan ngerapiin Folder lainnya, aku balik lagi ke folder Ilham. Dan di situ aku mendapati keanehan tersendiri. Kok, icon foldernya berubah ya... Bentuknya sih masih folder icon pada umumnya, tapi agak kecilan dan seperti dilapisi oleh kaca persegi sama sisi di permukaannya. Kucoba doubleclick. Tiktik... Kok nggak kebuka ya... Ah, mungkin kurang cepat. Lagi, tiktik... Masih nggak kebuka. Lho ada apa ini. Ato touchpad-nya rusak ya? A, nggak mungkin, slelect aja masih bisa.

Kucoba lagi klik sekali di folder Ilham, trus di-ENTER. Hah, nggak bisa dibuka juga ada apa ini. Saat itu aku deg-degan setengah hidup. Kambing jantan kan film yang sangat ingin aku tonton selama ini. Dengar-dengar sih, di bioskop kalimantan filmnya nggak diputar, cuma di pulau jawa doang. Apalagi CD or DVD-nyam, nggak ada yang jual, mau nggak mau musti donlot.

Saat-saat aku kebingungan, tiba-tiba icon folder Ilham tadi berubah lagi, metamorfosis yang lebih mengenaskan. Iconnya jadi berbentuk selembar kertas kosong (icon di windows Vista apabila file tersebut tidak bisa dibuka dengan aplikasi yang tersedia di com.). Tapi bukannya buka folder itu cuma pakai explorer, ini malah nggak bisa dibuka, barang setengah (emang ada setengah)

Aku mulai curiga ini pekerjaan siapa. Aku gerakan cursor ke folder Ilham tadi dan ternyata benar, ukuran file tersebut juga ikut berubah yang asalnya ratusan MB, jadi 4 KB doang! Sial, untuk sementara aku menduga mungkin ini perbuatan virus atau semacamnya.

Kemudian di lain kesempatan. Aku berburu lagi di warnet yang baru kukenal. Tapi di situ loadingnya bikin bete. Jadilah aku donlotannya cuma 3 file. Nggak papa lumayan, bisa nyicil.

Besoknya aku lunasi cicilanku dengan sempurna di Engsty.net, yaitu hari ini, hari Kamis 31 Desember di penghujung tahun 2009, aku akhiri perburuan film kambing jantan full movie dengan happy ending. Yeah...!
Read More …

Monday, 28 Desember 2009

Hari ini ulangan terakhir. Ulangannya bangai! Bayangin semua soal yang keluar lepas dari bacaanku. Ceritanya kan kemarin pas hari ahad habis ulangan aku refresh dulu, aku manamainya hari F5, buat yang doyan ngecom pasti tahu. Biasalah jalan-jalan hunting warnet(baca postingan sebelumnya). (Flashback bentar)Makanya pas malamnya aku capek banget. Baru juga pukul 10 malam aku udah ngorok(bayi banget ya). Sebelum tidur tuh aku cuman baca-baca kitab hadist dikitan aja.

Pas pukul 3 dini hari aku kebangun. Baca dan hapal satu hadist, trus tidur lagi, kebangun lagi baca dan hapal satu lagi, trus tidur lagi, baca dan hapal atu lagi trus tidur lagi. Selalu begitu sampai kau hapal delapan hadist, pas banget bab yang diujikan kan delapan bab, jadi tiap bab diwakili oleh satu hadist. Biasanya pertanyaannya mudah: اذكرحديثامن باب تحريم الظلم! (sebutkan satu hadist dari bab haramnya berbuat dzolim) misalnya, yah tinggal tulis satu hadist selese. Atau: تمم الحديث الآتي! (sempurnakan hadist yang akan datang, maksudnya isi yang bolong-bolongnya) biasanya hadist yang disempurnakan itu juga hadist yang pertama. Jadi intinya kalau soalnya nggak kayak tadi, tamatlah aku.

Esok harinya, soal bpun dibagi. Sebelum melihat soal aku berdo’a. aku baca soal pertama. Soal ujian di sini tuh rata-rata cuman sepuluhan, tapi jangan anggap remeh pertanyaannya dalam format essai, satu soal aja jawabannya minta ampun cerewetnya.

Soal-soalnya sih aku rada-rada lupa gitu, yah kurang lebih beginilah:

Soal pertama. Ah, disuruh menyempurnakan hadist, tapi bukan hadist yang pertama. Perasaan ini sih hadist kedua tapi aku nggak hapal juga, cuman kebaca lewat doang. Yah, nggak papa cuman kecolongan satu soal, masih banyak soal yang lainnya yang menanti kejeniusan aku.

Soal kedua. Hah, menyempurnkan hadist lagi, dan lagi-lagi bukan hadist pertama yang kuhapal. Bahkan lebih parah dari soal peratama, kali ini aku malah nggak tahu kalau hadist di soal kedua ini ada di bahan ulangan. Aku agak sedikit gelisah. Tapi, ah, nggak papa, cuman kecolongan dua soal masih ada banyak soal di bawahnya lagi. Aku pun berlanjut ke pertanyaan berikuktnya.

Soal ketiga. Lho yang ditanyakan maksud dari suatu istilah yang ada di catatan kaki, biasanya letaknya di bagian bawah halaman, tulisannya kecil-kecil dan imut-imut. Biasanya tiap kali ulangan atau ujian hadist aku pasti bakal ngapalin catatan kaki. Nggak tau kenapa ulangan kali ini aku lupa ngapalnya. Udah kecolongan tiga nih. Wajahku agak berubah. Sebelumnya ini nggak pernah terjadi. Biasanya kalau nggak dapat itu di pertanyaan yang akhir-akhir. Kalau yang pertama yang mudah-mudah dan soal berikuktnya makin sulit aja. Ini baru pertanyaan yang awal-awal udah nggak dapat, apalagi seterusnya. Biar bagaimana pun aku harus tetap optimis. Yak, lanjut ke soal berikutya.

Soal keempat. Aku udah nggak tau harus berbuat apa-apa. Lagi-lagi lepas dari bacaanku. Aku mulai lepas kendali. Perasaan, aku pengen makan yang buat nih soal kurang belajar.

Soal kelima. Aku kalut. Nggak tau. Apalagi muka belakang bisik-bisik: Ham, nomor 5. Ham, nomor7.ham, nomor 2. Arrggghhh….. Manyuk-manyuk.

Soal keenam dan seterusnya aku udah nggak sanggup lagi mengenangnya, itu terlalu menyakitkan *menyeka ingus*. Kecuali soal kesepuluh, ada titik terang dikiiiiiiit bangeeeeeet.

Setelah menganalisis per mata pelajaran jawaban selama ulangan kali, aku mustahil menjadi rangking satu atau masuk tiga besar bahkan sepuluh besar. Buktinya pas ngoreksi hasil ulangan usul fiqh dah qowaid fiqh (aku n 2pren dapat kepercayaan ngoreksi. Masing-masih aku mendapat nilai 7 dan 6. Sedangkan yang lain rata-rata 8 dan 9 bahkan ada yang sampai nilai sempurna.

Mungkin sudah saatnya aku nggak rangking lagi. Jujur selama ini rangking satu nggak membuatku bangga sedikit pun kecuali pas bagi rapor. Bukan maksdunya aku sombong atau meremehkan rangking satu, tapi di situ aku benar-benar nggak nemuin kepuasan batin. Terlebih ortu, pas tau anaknya rangking satu, dia cuman ngucap Alhamdulillah, dan entah mengapa di kuping terdengar hambar.

Sangat berbeda saat aku SD dulu. Aku nggak pernah rangking. Tau-tau pas ujian kelulusan aku rangking 5. Bah, aku merasa telah mengalahkan A. Einsten. Dan lagi pas awal-awal masuk Al Falah waktu di tingakat tajhizi, semester kedua aku mendapat rangking 3. Aku yang nggak terbiasa rangking ini, merasakan suatu yang sulit dijelasin. Rasa gimana gitu.

Karirku di dunia rangking terbolak-bolik di tiga besar. Yang paling sering di 1 dan di 2. Mungkin karena sudah terbiasa rangking aku tidak meraskan apa-apa lagi. Seperti kebal gitu. Allah telah mengatur segalanya dan dia selalu memilihkan yang terbaik. Oleh karena itu aku beranggapan ada baiknya aku mampir lagi di urutan ke 13, ke 20 atau berapalah, asal jangan 10 dan 3 besar, biar ntar jika aku ada kesempatan numpang di peringkat 1 lagi, aku bisa merasakan rasa yang telah hilang itu.

07.59AM

Read More …

Sunday, 27 Des. 09
Hari habis ulangan aku diajak ke Banjarbaru. Ya udah aku sanggupi aja. Sekalian refreshing. Biasanya kalau refresh di com tuh tekan F5, jadi aku beri nama aja hari adalah hari F5.
Aku masuk warnet OBY.net dekat UNLAM. wiuhhh.... internetnya cepat juga. Bahkan aku sampai bingung mau donlot apa lagi. Clip Sherina udah. Wannabe udah. Kambing jantan full movie juga udah. Game-game yang asik udah. nge-FB ya juga udah. Apalagi nge-blog juga udah. Menjarah di com warnet juga udah. Ah... senengnya kalau semua warnet secepat ini. Dan aku pun nunggu donlotan game yang bentar lagi selese, abis tu pindahin data donlotan ke plasdisk. Yap semua yang perlu beres.
Pas lagi nunggu donlotan tiba-tiba terjadi sesuatu di luar kepalaku (kalau dalam kepala, itu namanya sakit kepala). Sesuatu yang mengerikan sepanjang sejarah warnet, menakutkan seluruh warneter seluruh dunia, bahkan lebih menakutkan ketimbang internet yang lamban kayak jalannya semut pincang.
Arrefhdgfhdjfjlggggghhhh.... Listrik padam. Hueeekkk...(lho, kok pake acara muah?) semua data yang kudonlot tadi belum kupindah ke Fd-ku. Masih di data D!
Intinya secepat apapun warnet kalau nggak ada listrik seperti lampu nggak ada listirknya, yaitu MATOT (mati total).
PS: Aku sih ke depannya berharap kalau setiap warnet tuh punya jenset atau UPS yang bisa nyimpan listik barang lima menit, biar hal seperti ini nggak terjadi lagi. (Salah aku juga sih naro donlotannya nggak ke Fd.).
Read More …